Pukul 05.47. Warna biru di dinding mulai luntur, digantikan oleh semburat jingga pucat yang masuk sela-sela tirai. Suara jangkrik yang tadi masih setia menemani, kini berganti dengan kicauan burung yang terdengar lebih riang. Entah kenapa, pagi selalu datang tanpa permisi—sekaligus tanpa basa-basi mengingatkan: 'Kemarin sudah lewat. Hari ini adalah milikmu.'
Di meja, kopi hitam yang kuteguk terakhir jam 3 pagi tadi kini sudah benar-benar dingin. Asbak di sampingnya hampir penuh, dan gitar kuning itu masih tergeletak di pangkuanku. Aku tidak ingat kapan tepatnya aku berhenti memainkannya. Mungkin saat jari-jariku lelah, atau mungkin saat sadar bahwa lagu yang kupetik sebenarnya bukan untuk dimainkan—tapi untuk dilepaskan.
Pagi mengajari saya satu hal: mengingat itu manusiawi, tapi kembali itu pilihan. Dan pagi ini, saya memilih untuk tidak memilih kembali.
Ada foto berbingkai kayu di dinding itu. Dua orang tersenyum—saya dan dia. Pagi ini cahaya menyinarinya dengan cara yang berbeda. Tidak lagi membuat dada sesak, tapi lebih seperti melihat lembaran buku yang sudah selesai dibaca. Saya masih ingat isinya, saya masih ingat bagaimana rasanya di setiap bab. Tapi saya tidak ingin membacanya dari awal lagi. Cukup sampai di sini.
Visual Pagi yang jadi Simbol
- Gitar Kuning
"Gitar ini warnanya kuning—seperti matahari pagi yang mulai terbit. Tadi malam dia terdengar sendu, tapi pagi ini, meskipun melodinya sama, nadanya terasa lebih ringan. Seperti pagi yang mengubah nada kesedihan menjadi nada pasrah yang tenang."
- Galon Air Biru
"Galon air biru di belakang meja itu diam-diam jadi saksi. Air di dalamnya tenang, tidak berguncang. Seperti hati yang akhirnya belajar untuk diam—tidak untuk menyembunyikan, tapi untuk menerima."
- Sandal Jepit
"Satu sandal jepitku terlepas dari kaki. Tidak sengaja, atau mungkin memang sengaja dibiarkan. Ada kenyamanan dalam ketidaksempurnaan. Pagi tidak menuntut kita untuk rapi. Pagi hanya menuntut kita untuk jujur."
Dan ketika saya menulis bait: 'Dirimu tlah ada yang memiliki, dalam diam kusimpan rasa ini', pagi berkata, 'Itu cukup. Kamu tidak perlu melawan untuk memiliki. Kamu cukup menyimpan.'
Lagu ini bukan tentang patah hati yang histeris. Ini tentang kesadaran pagi hari setelah semalam terjaga: bahwa kita bisa membawa cinta itu bersama kita—tanpa harus membawanya pulang.
Pagi ini, jika kamu juga sedang mengingat seseorang, biarkan saja. Jangan buru-buru melupakan, tapi juga jangan buru-buru kembali. Cukup duduk sebentar, nikmati udara yang mulai hangat, dan katakan dalam hati: 'Aku ingat kamu, tapi pagi ini milikku.'
Selamat pagi, teman-teman. Lagu ini buat kamu-kamu.