Beberapa bulan lalu, saya mengetik lirik "Hancur hatiku" di notes handphone. Waktu itu saya hanya bermimpi mengubahnya menjadi lagu. Kini, mimpi itu sudah berwujud nyata—bukan hanya lagu, tapi sebuah film pendek 5 menit yang saya beri judul sesuai dengan lagunya: Hancur Hatiku.
Dalam video ini, saya menghadirkan dua tokoh yang saya beri nama Lilis dan Hendar. Saya sengaja memilih nama yang terdengar klasik dan familiar, karena saya ingin penonton merasa bahwa ini bisa terjadi pada siapa saja—tetangga, sahabat, atau bahkan diri kita sendiri.
Mengapa Lilis dan Hendar?
Lilis adalah representasi dari kita yang pernah percaya bahwa dunia milik berdua. Hendar adalah representasi dari janji yang ternyata rapuh. Saya tidak ingin menghakimi salah satu tokoh, karena dalam setiap pengkhianatan, selalu ada dua sisi cerita. Tapi dari sudut pandang Lilis, saya ingin mengajak penonton merasakan perjalanan emosi yang utuh: dari senyum hangat di perkebunan teh, firasat dingin di tengah malam, kehancuran di lantai kamar mandi, hingga akhirnya menatap cahaya dari dalam Masjid.
Proses Kreatif:
Karena saya ingin visual yang cinematic tetapi tidak memiliki tim produksi besar, saya menggunakan teknologi AI Image-to-Video untuk mewujudkan 30 adegan. Setiap adegan saya rancang 10 detik, dengan gerakan kamera yang mengikuti detak jantung lagu—pelan di verse, kacau di chorus, dan megah di climax.
Penutup:
Saya tidak tahu apakah Lilis dan Hendar akan berdamai di dunia nyata. Tapi yang saya tahu, lagu dan video ini adalah doa dan pengingat untuk kita semua: bahwa patah hati bukanlah akhir segalanya. Seperti yang saya gambarkan di adegan akhir, terkadang kita harus melepas agar arus kehidupan membawa kita ke tempat yang lebih terang.
"Kita akan tahu apa yang berharga kalau kita sudah terluka."