Pagi itu, sekitar pukul 05.30, Asep terbangun bukan karena dering alarm, melainkan karena suara 'klik' kompor gas yang dinyalakan dari dapur. Di antara gelapnya kamar yang masih diselimuti dingin pagi, telinganya menangkap langkah kaki terburu-buru Neng, diiringi gumaman kecil saat perempuan itu menjatuhkan sendok. Beberapa menit kemudian, pintu kamar terbuka. Neng masuk dengan rambut acak-acakan, membawa kemeja kerja Asep yang sudah disetrika rapi di tangannya. Ia tersenyum—senyum yang sama persis seperti sepuluh tahun lalu saat mereka masih berpacaran—lalu berkata pelan, "Sarapan sudah di meja, mandi dulu, yuk."

Di saat itulah, tanpa Neng sadari, lirik sebuah lagu yang pernah Asep dengar di radio berputar di kepalanya. "Kau adalah benteng... kokoh takkan roboh." Dan Asep tersadar: benteng itu tidak pernah membuat keributan. Ia hanya berdiri diam, melindungi, setiap pagi.


Dulu, Asep mengira benteng haruslah sesuatu yang kuat secara fisik—seperti tembok bata atau pagar besi. Namun, setelah bertahun-tahun menikah, ia mulai paham. Benteng dalam hidupnya bukanlah kekuatan otot, melainkan ketenangan Neng di saat kepalanya sedang panas.


Asep masih ingat kejadian dua pekan lalu. Saat pekerjaannya sedang runyam dan kliennya marah-marah di telepon, ia pulang ke rumah dengan muka masam. Ia siap meledak dan membentak siapa pun. Namun, Neng tidak bertanya apa-apa. Perempuan itu hanya menuangkan segelas air dingin, duduk di samping Asep, lalu diam. Ia tidak memberi solusi, tidak memberi ceramah. Ia hanya menepuk pundak Asep perlahan.


"Kita cari jalan keluarnya besok," katanya lembut.


Dan entah mengapa, badai di kepala Asep langsung surut. Ia menyadari, Neng adalah pelita yang tidak pernah menyilaukan, tetapi cukup terang untuk membuatnya melihat jalan di tengah kabut.


Namun, yang paling menggetarkan dada Asep ketika mendengar lirik "Di balik senyummu, terukir luka" adalah karena ia tahu itu benar.


Ada suatu sore ketika Asep melangkah ke dapur untuk mengambil minum. Di balik pintu yang sedikit terbuka, ia melihat Neng sedang mengucek-ngucek mata, tampak lelah setelah seharian mengurus anak dan membereskan rumah. Asep bertanya, "Lelah, Neng?"


Neng hanya menggeleng cepat, lalu memaksakan senyum. "Enggak kok, ini mah biasa."


Namun Asep tidak bodoh. Matanya yang sedikit sembab berbicara lain. Ia tahu, Neng menyimpan lelah itu seperti menyimpan rahasia—agar Asep tidak merasa bersalah. Perempuan itu berkorban tanpa pernah membuat catatan utang, entah untuk waktu tidurnya, atau untuk keinginan kecilnya membeli baju baru yang selalu ia tunda demi keperluan rumah tangga.


Dan di sinilah letak syukur terbesar Asep: ia tidak perlu menulis kisah ini sebagai surat perpisahan.


Asep tidak perlu menjadi tokoh dalam lagu sedih yang menyesali kepergian. Karena saat ini, Neng masih di sini. Masih menarik-narik ujung kemejanya sambil bercanda. Masih memeluknya erat di malam hari, meskipun Asep mendengkur kencang. Wajah Neng mungkin mulai dimakan usia, garis-garis halus terukir di sudut matanya—tetapi cinta dan kesabaran perempuan itu tidak lekang oleh waktu.


Lirik-lirik tentang benteng dan pelita itu terngiang di kepala Asep bukan sebagai pengingat akan kehilangan, melainkan sebagai alarm kesadaran. Bahwa ia masih diberi kesempatan untuk melihat senyum Neng, untuk membantunya mencuci piring, dan untuk membalas semua pengorbanan itu sekarang, bukan nanti. Karena nanti bisa jadi terlambat. Tapi hari ini, tepat saat ini, semuanya masih sempurna.


Jadi, untuk malam ini, Asep tidak akan mengakhiri tulisannya dengan kata-kata puitis yang menggantung. Ia mematikan laptopnya dengan sebuah keputusan praktis dan bulat:


Besok pagi, Asep akan bangun 30 menit lebih cepat. Dialah yang akan ke dapur, membuatkan segelas susu hangat untuk Neng, dan membiarkan istrinya itu tidur lebih lama. Karena sudah saatnya benteng itu merasakan hangatnya sinar matahari, dan bukan hanya terus-menerus menahan angin kencang.


Untuk semua pelita, benteng, dan luka yang tak pernah kau pamerkan—mulai detik ini, izinkan Asep menjadi dinding kedua di sampingmu. Bukan dengan janji manis, tetapi dengan tindakan nyata setiap pagi.


Bagaimana denganmu?

Jika ada seseorang di rumahmu yang selama ini menjadi benteng diam-diam, jangan tunggu sampai besok. Lihatlah ia sekarang. Peluklah ia sebelum malam berganti.


Karena syukur terbesar bukanlah ketika kita sudah kehilangan, tetapi ketika kita masih bisa mengucapkan, "Aku sangat bersyukur, kau masih ada di sini."